24.5 C
Aceh
30 Oktober 2020
Aceh24
Aceh Berita Foto

Ketika Hutan Lindung dan Mangrove Dilirik Touring YNCI

Foto : Puluhan keluarga pecinta Yamaha N Max yang tergabung YNCI bersama keluarga menikmati wisata hutan lindung dan mangrove di Langsa, Aceh. Foto diabadikan saat di rumah Aceh berasal dari Bantayan, Simpang Ulim, yang kini berada di lokasi hutan lindung Desa Paya Bujok, Seulemak, Langsa, dijadikan bukti wisata sejarah. Usia rumah ini diperkirakan telah mencapai 300 tahun.

Ditengah pandemic COVID-19, antusias touring bagi pencinta skutik matic ternyata tidak kendur. Gas pol melibas rute 340 km PP (pergi-pulang) ditempuh 10 jam. Kali ini, hutan lindung dan mangrove di Langsa, jadi target.

Ya, ada puluhan pecinta Yamaha N Max Chapter Lhokseumawe, Sabtu lalu (26/9) bersama keluarganya nikmati eksotik hutan lindung berada di pusat kota Langsa.

Pakai masker, jaga jarak  dan selalu cuci tangan jadi protap utama, itu kata Ketua YNCI Chapter Lhokseumawe, Afiet Chan, kepada Aceh24.com seusai berfoto bersama di sebuah rumah Aceh yang telah berusia diperkirakan mencapai 300 tahun itu.

OBjek Wisata Hutan Lindung, Langsa Tujuan Komunitas Yamaha N Max Lhokseumawe

Mesin berlogo Garputala pukul 09.30 WIB sudah menderu dari Lhokseumawe.  Tiga jam kemudian atau sekitar pukul 13.05 WIB tiba di Langsa. Tentu saja, sebelumnya singgah sekejab di Lhoksukon, ibukota Kabupaten Aceh Utara. Ya, disini ada sekitar tujuh sepeda motor sudah menunggu untuk gabung.

Tak lama disini. Hanya 5 menit saja seperti lirik lagu dangdut. BBM sudah full. Gas pol lagi. Tak terasa perbatasan Aceh Utara, dengan singkat sudah terlewati. Waktu solat dhuhur pun sudah masuk.

Di kota memiliki monument Islam Asia Tenggara (Peureulak-red) solat dhuhur dilaksanakan. Mesin pun sekalian didinginkan. Berdiri, rukuk, sujud dan zikir seusai solat, membuat tubuh semakin fit lagi. N Max pun kembali dipacu.

Sejam kemudian, tiba di Langsa. Ngopi dulu dilokasi tongkrongan rekan N Max di kota terkenal dengan terasi dan kecap asin merk Singa itu.  Sibuah hati yang ikut, langsung minta minum yang dingin-dingin. Apa lagi kalau bukan es crem.

Setelah rehat hampir setengah jam. Dan, rekan di Langsa juga ikut gabung,  giliran nasi bungkus jadi inceran. Perut sudah mulai kroncongan. Sebuah warung Minang yang berada di jalan utama kota itu pun jadi inceran.

Baru mendekati rak nasi. Pak, pakai masker ya ? Itu kata seorang pemilik warung kepada rombongan yang menyerbu warungnya.

Saya pakai hati rendang dan dendeng batokok ya. Suara terdengar keluar dari Idris berusia 58 tahun yang menggunakan X Max 250 cc.   “Nah, sambel merah jangan lupa ditambah,” ulang pemilik skutic gembrot keluaran perdana tahun 2017 itu.

Eh ngak mau kalah, Reza dan Ismu juga minta pakai rendang tambah ikan gulai. Rupanya selera pria bertubuh sedikit tambun ini menggebu setelah melakukan perjalanan mencapai 170 km.

Semua nasi di bungkus. Karena ingin nikmati suasana beda. Langsung tancap gas ke kawasan hutan lindung.

Di pintu gerbang sudah berdiri penagih tiket. Sekali masuk Rp 10 ribu. Sepeda motor Rp 2 ribu. Tanpa basa basi lagi, masing-masing merogoh kocek. Ya, si perut terus keroncongan. Apa lagi sang balita usia 4 tahun berambut kribo dengan kulit sedikit hitam terus merengek karena lapar.

Alhamdulilah. Sudah terisi. Giliran rehat, foto sana foto sini. Tentu saja, buat kenang-kenangan sambil mengelilingi rumah adat Aceh.

Ternyata, disitu ada sebuah rumah Aceh, yang masih asli. Bahkan telah berusia mencapai 250-300 tahun. Asalnya dari Bantayan, Kecamatan Simpang Ulim. Milik seorang saudagar Aceh bernama Tgk  Nya Yusuf.

Dikisahkan, pada masanya, rumah tersebut dijadikan tempat pengajian. Sekaligus ditempati secara turun temurun oleh ahli waris. Pada tahun 2015, rumah tersebut dihibah ke lokasi hutan lindung oleh Tgk Nuriman sebagai salah satu wisata sejarah.

Mengelilingi hutan lindung yang mencapai 10 hektar lebih di Desa Paya Bujok, Seulemak, Kecamatan Langsa Timur, tentu saja kaki sudah mulai pegal. Ya, istrahat lagi.

Menjelang sore, suara mesin N Max kembali menderu. Tujuan kali ini adalah lokasi wisata hutan Mangrove.  Tiket masuk Rp 5 ribu. Kaki pun  melangkah di atas papan yang dijadikan jalan.

Tak lebih semenit melangkah, monyet sudah minta jatah. Suara cit-cit dan mata melotot menatap wisatawan local ini. Ya, dikira kita bawa makanan, kata istri ketua YNCI Afiet. Syukurnya, ada tempe goreng yang masih panas bisa jadi santapan kawanan monyet itu.  Padahal, tempe dibeli buat tambahan lauk pauk. Apa boleh buat. Yah, namanya sama-sama lapar.

Beberapa titik ada destinasi buat berswa foto. Itu belum lagi objek mangrove mempesona. Sungai berwarna agak kecoklatan juga menghiasinya. ’ Mak beli  es krim’. Tiba-tiba Ryan (5) mengusik kosentrasi. Eh, rupanya ada juga penjual es krim keliling disitu.

Menjelang magrib, semua kembali ke kota. Titik ngumpul di Pos Kopi yang bersebelahan dengan Kantor Pos Langsa.  Solat magrib dilaksanakan. Sate, mie, martabak telor, nasi goreng  dan kopi menghiasi di depan pecinta N Max. Ya, selera masing-masing.

Syatil melibas satu persatu daging tusuk yang sedikit gosong itu. Tak lupa dioles dengan bumbu kacang.

Om Iraba yang berboncengan mesra bersama istri ngak mau kalah. Nasi goreng plus mata sapi menemani malam minggu itu. Bak masa baholak pacaran. Pak Haji Sumanto, tak lepas topi ibadahnya walaupun saat pakai helm dan masker. Hanya sayang. Ibu hajjah kali ini ngak ikut. Biasanya kalau touring tak ada yang bisa kalahkan pak haji sangkin mesranya bersama ibu hajjah.

Pokoknya yang muda-muda pada cemburu. Banyak lagi lah tingkah polah rekan YNCI yang mengocok perut.  Tapi, ngak ingat satu persatu namanya.

“Yuk, sudah pukul 8 delapan malam ini. Mari kita kembali ke Lhokseumawe,” keluar suara dari Afiet.

Memang, sudah lama tak libas jalan lintasan Langsa –Lhokseumawe dimalam hari.  Mau tak mau tetap ketua YNCI Afiet yang berbonceng istri berada di depan sebagai voreder.  Mungkin saja lebih dari tiga tahun.

Berjalan sedikit kencang, namun penuh kosentrasi, sekitar Pukul 24.15 WIB, Minggu dinihari semua peserta touring silaturrahmi N Max selamat tiba di rumah berkumpul  bersama keluarga.

Alhamdulilah,  memang sepanjang jalan cukup ramai lalu lintas. Terlebih lagi, kedai-kedai kopi atau warung yang ada di pinggir jalan lintas nasional ini. Semua padat.  Baik itu, ketika berada di persimpangan Peureulak, Idi, Panton Labu dan Lhoksukon.

Sepertinya ini menandakan perekonomian masyarakat tetap berjalan ditengah pandemic  Covid-19 ini.  Semoga saja, ancaman kesehatan ini segera berlalu. Masyarakat kembali aman dan tentram menjalani kehidupan kesehariannnya. *

Foto : Puluhan keluarga pecinta Yamaha N Max yang tergabung  YNCI bersama keluarga menikmati wisata hutan lindung dan mangrove di Langsa, Aceh. Foto diabadikan saat di rumah Aceh berasal dari Bantayan, Simpang Ulim, yang kini berada di lokasi hutan lindung Desa Paya Bujok, Seulemak, Langsa, dijadikan bukti wisata sejarah. Usia rumah ini diperkirakan telah mencapai 300 tahun.

Related posts

Bimtek Geuchik Perlu Evaluasi

Redaksi Aceh24

Kantor Modus Aceh di Molotov

Redaksi Aceh24

Kami Relawan PMI Bukan Penjahat

Redaksi Aceh24