AcehBerita FotoNusantara

Trauma Healing Anak Korban Gempa NTB

Foto : Anak-anak korban gempa di NTB di Dusun Mandawa, Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, seusai mengikuti trauma healing, Senin (13/8). Kiriman relawan PBA Unimal.

# 436 Meninggal

LHOKSEUMAWE-Upaya untuk menghilangkan trauma bagi anak-anak korban gempa 7 SR guncang Nusa Tenggara Barat (NTB) terus dilakukan. Hari ini saja, Senin (13/8) anak-anak beserta keluarga mereka mengikuti trauma healing.

Kenapa perlu trauma healing ? Tentu saja,  karena dianggap penting guna menghilangkan stress maupun depresi  bagi korban terutama anak-anak dan lansia.  Terlebih lagi, dari guncangan gempa susulan kerap terjadi.

Seperti yang dilaksanakan tim relawan maupun dari kesehatan di Dusun Mendawa, Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Trauma healing akan memberikan kekuatan mental anak-anak dengan cara bermain bersama-sama.

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Pusat, Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan dampak gempa Lombok menyebabkan 436 orang meninggal. Dan kerugian ekonomi mencapai Rp 5 triliun lebih.

Tercatat hingga Senin (13/8/2018), dampak gempa 7 SR menyebabkan 436 orang meninggal dunia. Sebaran korban meninggal dunia adalah di Kabupaten Lombok Utara 374 orang, Lombok Barat 37 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Timur 12 orang, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Denpasar 2 orang. Jumlah 436 orang meninggal dunia tersebut adalah korban yang sudah terdata oleh Kepala Desa dan babinsa. Korban yang sudah terverifikasi dan ada surat kematian di Dinas Dukcapil tercatat 259 orang. Sisanya dalam proses administrasi di Dinas Dukcapil msing-masing kabupaten. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan roboh saat gempa.

Korban luka-luka tercatat 1.353 orang, dimana 783 orang luka berat dan 570 orang luka ringan. Korban luka-luka paling banyak terdapat di Lombok Utara sebanyak 640 orang. Lombok Utara adalah daerah yang paling terdampak gempa karena berdekatan dengan pusat gempa 7 SR.

Sementara itu, jumlah pengungsi sering berubah. Hal ini disebabkan banyak pengungsi pada siang hari kembali ke rumahnya atau bekerja di kebunnya. Pada malam mereka kembali ke pengungsian. Adanya juga pengungsi yang sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Berdasarkan data dari Posko Tanggap Gempa Lombok pada 13/8/2018, pengungsi tercatat 352.793 orang. Sebaran pengungsi terdapat di Kabupaten Lombok Utara 137.182 orang, Lombok Barat 118.818 orang, Lombok Timur 78.368 orang, dan Kota Mataram 18.368 orang. Secara umum pengungsi yang mengungsi di lapangan atau lahan terbuka mendirikan tenta bantuan dari BNPB, TNI, Polri, Kemensos, Kementerian PU Pera, Pemda, NGO dan lainnya. Pendataan pengungsi terus dilakukan. Pengungsi kembali ke tenda penampungan rata-rata pada sore atau malam hari.

Evakuasi korban yang tertimbun bangungan runtuh dan longsor masih dilakukan oleh Tim SAR gabungan. Distribusi bantuan logistik ke pengungsi juga terus dilanjutkan ke seluruh pelosok daerah yang terdampak gempa. Bantuan air bersih dilakukan dengan tanki air. Bak-bak penampungan air dan hidran umum di pengungsian terus ditambah.

Kendala yang dihadapi dalam distribusi logistik adalah banyaknya akses jalan yang rusak. Minimnya transportasi  bantuan logistik untuk disalurkan ke pengungsi yang berada di perbukitan karena jalur tersebut sempit dan banyak kendaraan lalu lalang.

Untuk mengatasi ini, ujar Sutupo, tiga helicopter dari BNPB, TNI dan Basarnas digunakan untuk distribusi bantuan ke daerah terisolir. Kebutuhan mendesak hingga saat ini adalah tenda, selimut, makanan siap saji, terpal alas tidur, MCK, air bersih, perbaikan jaringan komunikasi, penerangan atau listrik, kendaraan untuk distribusi logistik, dan kebutuhan dasar sehari-hari. Aceh24.com

 

Foto : Anak-anak korban gempa di NTB di Dusun Mandawa, Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, seusai mengikuti trauma healing, Senin (13/8). Kiriman relawan PBA Unimal.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: