AcehBerita FotoNusantara

Tim Pendamping P3MD Aceh, Dinilai Arogan

 

Salah satu jalan desa memanfaatkan dana tahun 2017, di Kabupaten Aceh Utara, sedang dikerjakan. Aceh24.com

Tim Pedamping Wilayah P3MD di Aceh Dinilai Arogan

# Zulfami : Tidak Arogan Hanya Klarifikasi

LHOKSEUMAWE-Seorang tenaga pendamping Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Kota Lhokseumawe, menilai  tim Tenaga Ahli Pedamping Wilayah (TAPW) Aceh, arogan dan sewenang-wenang dalam memperlakukan pendamping di daerah.

Kok bisa ? Tak lain dan tak bukan adalah akibat – TAPW memanggil pendamping di kabupaten dan kota tanpa kesalahan yang jelas dan klarifikasi terlebih dahulu. Nah, itulah salah satu informasi diperoleh Aceh24.com, Selasa malam sekira pukul 22.00 WIB.

 Namun, ada yang diklaim seorang pendamping P3MD Kota Lhokseumawe, justru mentah-mentah dibantah oleh Koordinator Pendamping Aceh, Zulfami.

Sebelumnya, seorang pedamping di daerah Jaswar menyebutkan dirinya termasuk pedamping yang dipanggil untuk “pembinaan”. Pemanggilan itu terkesan sudah melakukan kesalahan fatal dalam menjalankan tugas selaku pendamping P3MD.

“Pemanggilan dilakukan hanya berdasarkan laporan pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Jaswar dalam keterangan tertulisnya, Selasa malam.

Dengan cara pemanggilan seperti itu, menurut Jaswar merasa diperlakukan tidak adil. Apalagi pemanggilan hanya berdasarkan pada laporan yang tidak jelas. Mereka berharap seharusnya ada klarifikasi terlebih dahulu sebelum dilakukan pemanggilan.

“Kesannya, kami sudah di sidang sebelum ada bukti kesalahan,” tambah Jaswar.

Ia menambahkan, pemanggilan tersebut juga sangat terbuka sehingga membuat pedamping di daerah seperti mendapat vonis bersalah. Meski sudah diperlakukan tidak adil, beberapa pendamping daerah tidak berani melawan arogansi pendamping wilayah.

Hanya saja, Jaswar sebagai wujud dari loyalitas,mengaku tetap memenuhi panggilan tersebut meski tidak jelas apakah untuk investigasi, klarifikasi, atau keperluan pembinaan.

“Kalau mengikuti undangan yang dikirim, di situ disebutkan pembinaan,” ungkap Jaswar yang menyesalkan atas sikap kesewenang-wenangan pihak pendamping wilayah seraya menilai mereka tidak paham SOP.

Lebih lanjut Jaswar mengatakan, kalaupun ada kesalahan para pedamping daerah, seharusnya dilakukan secara proporsional dengan tahapan yang sesuai dengan prosedur.

Ketua Pendamping Wilayah juga sewajarnya berkoordinasi dengan Satker P3MD Provinsi Aceh serta BPMD kabupaten dan kota – sebelum memanggil pedamping.

Sementara itu, Koordinator TAPW Aceh, Zulfami saat dihubungi Aceh24.com via telepon selularnya, Selasa malam pukul 22.10 WIB, mengaku tidak arogan terhadap pendamping. Terutama kepada Jaswar.

 Ngak, ngak ada arogan. Kita hanya ingin klarifikasi soal laporan yang kita terima dengan bukti lengkap,” bela Zulfami.

Menurut dia lagi, berdasarkan laporan masuk, Jaswar tidak bekerja full sebagai tenaga pendamping desa di Lhokseumawe. “Bahkan sesuai ketentuan, tenaga pendamping tidak boleh double job. Dan, laporan yang ada malah Jaswar merupakan salah satu dosen pada perguruan tinggi di Bireuen,” papar Koordinator TAPW Aceh.

Bukan itu saja, Jaswar juga merupakan mahasiswa yang sedang mengikuti jenjang S 3 di Malaysia, ungkap Zulfami mengakhiri.

Sekedar mengingatkan, Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa berada di bawah Kementerian Desa, Transmigrasi, dan Desa Tertinggal sebagai upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat desa. Program ini melibatkan pendamping professional sebagai katalisator mempercepat capaian kemandirian. Aceh24.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: