20.2 C
Aceh
26 Januari 2021
Aceh24
Aceh Berita Foto Nusantara

Tenda Warna Warni Saksi Wartawan Silaturahmi di Danau Lut Tawar Takengon

Kabut mulai menyelimuti setiba jurnalis di lokasi wisata Gayo Camping Ground. Hujan rintik-rintik menambah nuansa kesejukan. Seakan menyapa selamat datang keluarga besar Jurnalis Pase Football Club (JPFC) wartawan pesisir pantai selat Malaka di danau dengan ketinggian sekitar 1.110 meter diatas permukaan laut.

Iya, hari itu persis 16 tahun memperingati tsunami Aceh setelah gempa menghentak 9,1 skala richter.  Ribuan jiwa meninggal di bumi paling barat nusantara ini.

Itu tak dapat dilupakan oleh para wartawan di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Sebab saat itu mereka juga tetap melakukan tugas liputan untuk menyampaikan segera informasi itu kepada masyarakat dunia.

Namun, kali ini setelah 16 tahun lalu, sebanyak 75 wartawan bersama keluarga mereka silaturrahmi melalui ajang kemping di tepi Danau Lut Tawar, Takengon, Aceh Tengah, Sabtu-Minggu (26-27/12). 

Menikmati keindahan alam tanah Gayo dan udara sejuk, wartawan dari berbagai media cetak, elektronik dan Online menginap semalam di bawah naungan tenda warna warni.

Memanfaatkan lokasi wisata Gayo Camping Ground, yang dikelilingi bukit dengan pohon pinus di tepi danau seluas mencapai 3 km itu,  wartawan bersama keluarganya tiba Sabtu sore. 

Rombongan terbagi dari satu unit bus, enam kenderaan roda empat dan selebihnya menggunakan sepeda motor. 

Lintasan jalan KKA-Bener Meriah menuju Takengon rute tercepat yang ditempuh. Sedangkan satu rombongan yang menggunakan bus, harus melewati jalur Bireuen-Takengon. Mengingat tanjakan dan kondisi bus.

Waktu menunjukan pukul 17.30 WIB. Tenda sudah berdiri tegak berjejer. Api unggun langsung  menemani pemburu berita itu sejak memasuki waktu jelang solat magrib. Udara kian sejuk. Secangkir kopi Gayo menambah syahdunya malam itu ditengah menunggu waktu makan malam.

“Mohon sabar kawan semua. Sajian makan malam menu kari kambing masih sekitar 1 jam lagi masak,” kata Ketua Umum JPFC, Rahmad Yd fotografer LKBN Antara.

Jadwal makan malam sedikit tertunda. Tentu saja ini karena api sangat sulit terbakar. Kayu yang disediakan memang agak basah. Ditambah malam itu ikut turut hujan rintik-rintik.

Ayi Jufridar yang datang bersama keluarga juga sudah mulai keroncongan. Mas Ayi salah satu wartawan yang getol meliput tsunami kala itu. Banyak fotonya naik tanyang sampai ke AP. Tak lepas Pembina JPFC Idris Bendung bersama istri  harus sigap turun tangan menyiapkan api, kayu bakar dan sajian kopi. Sayang, karena anak-anak wartawan yang ikut juga sudah tak sabaran mencicipi menu malam.

Itu pula yang ditambah Cek Nasir. Minyak solar sebentar-bentar disiram ke kayu agar cepat besar api. Ditemani Ketua Harian, Rudi dari RRI Lhokseumawe, mempersiapkan piring agar bersih yang telah disediakan pemilik lokasi objek wisata.

Lagi asiknya menunggu sajian makan malam, Agustiar bersama keluarga tak mau tinggal diam. Beberapa panganan ringan dikeluarkan dari dalam tenda yang khusus dibawa buat anaknya Denis. Sambil ngemil Denis melepas panjing ke tepi danau.

Hingga nasi tanak dan kari kambing matang, Denis tak kunjung dapat ikan. “Mungkin ikan lagi kedinginan pak,” celotehnya kepada sang ibunya yang seorang guru itu.

Belanga besar mendidih dengan aroma kari kambing yang kental. Mau tak mau sang koki kawakan JPFC, Rahmad mengeluarkan suara sajian makan malam dimulai. Centong besar tak lepas dari tangannya.  

Namun sebelumnya, kambing hasil sembelih Zulfadli ini memang cukup besar. Wartawan beramai ramai mengulitinya dan membersihkan daging. Istri Pembina bersama ibu wartawan lain mempersiapkan bumbu. Ya, itu lah kebersamaan.

Indahnya silaturahmi  terlihat saat satu persatu piring berisi nasi penuh dengan daging kari kambing menemani para wartawan dan keluarganya. Diawal – awal memang agak menggebu-gebu. Wajar, sebab sudah pukul 21.35 WIB baru menikmati sajian makan malam. Yang tenang-tenang saya justru  Miswardi. Eh rupanya bendahara JPFC ini ketahuan sedang melirik kepala kambing.

Tak lama semua diam, puluhan mulut terlihat komat-kamit. Bukan ber do’a. Tapi menikmati sajian makan malam di tepi danau dengan panjang sekitar 17 km itu. Terpal lebar terbentang di depan tenda. Duduk bersila bersama keluarga menikmati santap malam.

Jafar (Serambi-red) bersama istri dan anak dengan nikmat menikmati kari kambing. Hanya sayang pimpinan Fuja TV, Deni tak membawa keluarga ke lokasi. Tetapi tetap di hotel. “Maaf bang, ada anak yang memang tak bisa dibawa ke sini,” katanya kepada pembina JPFC.

Soal makan,  tak ada lawan kalau lihat Bastin melahap menu kari kambing. Buktinya, duluan ambil nasi tambah. Sedangkan Zikri (kompas tv-red)  Reza-Maskur cepat menyerah. Ya, sang anak muda ini kalah sama Pembina soal santap kari kambing.

Ngak sampai 60 detik, satu belanga besar penuh kari kambing tertinggal seperempat malam itu. Padahal, kambing jantan yang disediakan cukup besar. “Piring cuci masing masing ya,” perintah Fazil seakan mengingatkan namun sebenarnya hanya alasan karena tak mampu melahap lebih banyak daging kambing.

                                            Nasi Goreng Kari Kambing

Bulan malam itu timbul tenggelam terhalang awan. Silih berganti Awan tipis menutupinya. Suhu paling tidak mendekati 20 derajat celcius. Memang dingin sudah mulai berkurang bila dibandingkan 10 tahun terakhir. Wartawan pesisir pantai tak merasa menggigil lagi. Apakah efek daging kambing dan api unggun ? Justru lebih banyak dari mereka yang tidak menggunakan baju tebal.

Bara api di bawah kuali besar masih tetap membara. Ya, agar kari kambing tetap hangat. Rencana, besok pagi (Minggu-red) sang koki JPFC bakal membuat sarapan nasi goreng ala Kari Kambing.

Rencana tak terwujud. Ini akibat selera udara sejuk dan keindahan alam.  Ternyata pukul 5 pagi, kuali mulai diserbu lagi. Dang-Dang nasi pun mengeluarkan suara berisik. Sebentar-bentar terjadi buka tutup dang dang. Rasa lapar rupanya dengan cepat “menyerang” para jurnalis ini. 

Tulang iga, babat dan hati yang sebelumnya masih cukup banyak. Itu pun ludes. Cukup lahap mereka menyantap. Apalagi kuah karinya memang diajungkan jempol oleh ibu-ibu yang sebelumnya menikmati kari kambing itu.

Setengah enam, giliran Adlin nyeletok. Masih ada tinggal kan karinya ? Ramadhan dengan cepat menjawab, masih ada sedikit lagi. Tanpa mencuci muka, maneger JPFC langsung cari piring.

Usai rekan jurnalis makan, satu persatu menjeburkan diri ke danau. Tentu setelah Ilyas (TVRI-red)  mengawali mandi pagi.  Apalagi fasilitas MCK yang tersedia sudah mulai terlihat antri.

“Iya, lain kali kita ulang lagi nasi goreng ala kari kambing,” tutur Rahmad sang koki JPFC setelah melihat belangga besar sudah ludes isinya. Alhamdulillah silaturrahmi dan rekreasi JPFC diakhir tahun berjalan penuh keakraban. Itu yang terpenting.

Minggu siang, seluruh rombongan kembali ke Lhokseumawe. Namun, ada sebagian harus keliling kota Takengon terlebih dahulu karena ingin membeli oleh-oleh. Iya, ikan depik, alpokat, terong belanda dan buah markisa khas negeri Gayo. Aceh24.com

Related posts

Syukuran Bersama Anak Yatim Awali Scrap Pabrik AAF

Redaksi Aceh24

TNI-Polri,Mahasiswa Doa dan Upacara di Pusara Tjoet Nya Meutia

Redaksi Aceh24

Menteri PPPA: 94 Perempuan-26 Anak Positif COVID-19

Redaksi Aceh24