Plt Gubernur Aceh Mengenang Tsunami Bersama BNPB di Pasie Jantang

0
112
Kepala BNPB, Doni Monardo bersama Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah di Pasie Jantang, Aceh Besar, saat berlangsungnya Jambore Katana 2019, Sabtu (7/12). Aceh24.com

#Tiga Juragan Pertama di Indonesia

ACEH BESAR – Desa Pasie Jantang, Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar, hancur porak poranda di hantam tsunami 15 tahun lalu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) memilih desa tersebut sebagai lokasi Jambore Keluarga Tangguh Bencana (KATANA) 2019.

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, bercerita kembali kepada Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo saat tsunami 26 Desember 2004 lalu di  lokasi Jambore Katana. Tak lupa gubernur menyebutkan dahsyatnya tsunami hingga menyebabkan pohon pinus pun ‘tertidur’ dilindas air.

Sementara itu, penyematan rompi Juragan pertama kepada tiga individu pada malam jelang peluncuran Keluarga Tangguh Bencana di Pasie Jantang, Aceh Besar, Aceh pada Sabtu malam (7/12). 

Sambil menikmati kopi khas Aceh, Plt Gubernur Nova  bersama Doni, bercerita kisah kondisi provinsi paling barat di nusantara itu, saat tsunami terjadi. “Pohon pinus pun tertidur,” kata Nova. Begitu dahsyatnya ketika terjadi 26 Desember 2004 lalu..  

Pembicaraan itu berlangsung tidak terlepas dengan kegiatan Jambore Katana 2019 sekaligus mengenang peristiwa tsunami di Aceh, bersama  BNPB.

Ditempat terpisah, seorang warga yang ditemui Aceh24.com, menyebutkan pantai Pasie Jantang, tergerus hingga 250 meter pasca tsunami. “Dulu itu banyak rumah. Sekarang sudah jadi air. Ya, pantai hilang sampai 250 meter,” kata seorang bapak yang enggan ditulis namanya.

“Rata-rata tinggal orang laki semua setelah tsunami. Saya pun istri bukanlah asli orang sini tetapi dari Aceh Utara,”  tambah dia yang kini berjualan kopi kecil-kecilan disisi jalan negara Banda Aceh-Meulaboh,

Saat tsunami mereka lari menaiki perbukitan yang ada di sisi selatan desa mereka. “Disini saat tsunami tinggi sekali air. Semua rumah tenggelam,” tambahnya lagi sembari menyebutkan kalau rumah yang ada saat ini adalah rumah baru dibuat lagi.

Sementara itu, penerima rompi Juragan adalah  Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali dan Wali Nanggroe Aceh, yang diwakili oleh Teuku Kamaruzzaman.

Penyematan rompi menjadi simbol pencanangan penggiat atau juru keluarga tangguh bencana, disingkat ‘Juragan.’ Para penerima rompi merepresentasikan pihak-pihak yang dapat berperan untuk mengantarkan keluarga di Indonesia menjadi keluarga tangguh bencana.

Doni menegaskan bahwa membumikan keluarga tangguh bencana  merupakan tugas bersama. Penta helix, pemerintah, pakar-akademisi, dunia usaha, masyarakat dan media massa memiliki masing-masing peran untuk mengakselerasi terwujudnya keluarga tangguh.

“Urusan bencana tidak bisa dibebankan pada satu unsur saja karena bencana adalah urusan bersama,” ujar Doni yang menginap bersama peserta Katana di Pasie Jantang.

Doni juga menambahkan bahwa selama lima tahun ke depan, dirinya berharap program ini bisa menyentuh seluruh keluarga di Indonesia. “Ke depan, program penanggulangan bencana juga akan menjadi kurikulum baru di dunia pendidikan di Indonesia, sehingga nanti penanggulangan bencana bisa paralel dari keluarga dan bangku sekolah,” kata Doni.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati berpesan Indonesia terus berproses dalam meningkatkan sistem peringatan dini gempa dan tsunami. “Dahulu kita hanya mempunyai 2 sensor di wilayah Aceh dan setelah belajar dari peristiwa tsunami Aceh, kita menambah menjadi 13 sensor,” ujar Dwikorita yang pernah mengemban amanat sebagai Rektor UGM.

Dwikorita mengilustrasikan saat itu pihaknya hanya memiliki 2 sensor untuk mendeteksi gempa di 6 juta km wilayah Indonesia. Kemudian, para petugas masih menggunakan alat yang sangat sederhana seperti penggaris dan jangkar untuk membuat perhitungan titik episenter gempa. 

Empat tahun setelah peristiwa tsunami Aceh 2004, BMKG berbenah untuk meningkatkan dan membangun sistem peringatan dini gempa dan tsunami. Dwikorita menyampaikan bahwa sebanyak 170 sensor terpasang untuk memantau seluruh wilayah Indonesia. 

Dalam acara Jelang Peluncuran Program Katana, BNPB menghadirkan dua keluarga yang memiliki pengalaman yang berbeda saat tsunami Aceh 2004 menerjang negeri rencong ini. Yang membedakan dari pengalaman dua keluarga tersebut, satu keluarga tidak memiliki pengetahuan mengenai apa itu tsunami, sedangkan keluarga lain telah memiliki pengetahuan dan memahami bagaimana merespon apabila terjadi gempa dan tsunami.

Katana ini merupakan bagian dari Desa Tangguh Bencana (Destana) dengan sasaran  prioritas masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Program yang akan diimplementasikan pada tahun 2020 ini diharapkan mampu untuk meningkatkan keselamatan dan ketangguhan keluarga dalam menghadapi kemungkinan atau potensi bahaya. 

Sementara itu, kunci Katana adalah keterlibatan multi pihak atau kemitraan lintas sektor. Katana bukan milik BNPB tetapi program bersama baik di pemerintahan maupun pemangku kepentingan lain. Komponen untuk membangun keluarga yang tangguh menyasar pada tahapan kesadaran risiko bencana, pengetahuan serta keberdayaan. Keberdayaan memiliki makna setiap individu maupun kita sebagai anggota keluarga mampu menyelamatkan diri sendiri, keluarga dan warga sekitar.

Hari ini, Minggu, 8 Desember 2019, program Katana secara resmi diluncurkan BNPB. Kepala BNPB meresmikan Katana di hadapan para multi pihak, pemerintah,  dunia usaha, akademisi-pakar, masyarakat dan media massa. Aceh24.com/ril

loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.