AcehBerita FotoNusantara

Petani Garam di Aceh Utara Terima Bantuan

Foto : Gubuk pembuatan garam tradisional di Lapang, Aceh Utara, Selasa (30/10) Aceh24.com

LHOKSUKON-Proses membuat garam secara perorangan dan  tradisional di Lapang, Aceh Utara sudah beralih  ke koperasi. Tujuannya agar pengelolaan terkoordinir,  mutu garam membaik juga penghasilan perekonomian petani meningkat. Pemerintah pun memberikan kemudahan dengan menyalur bantuan perlengkapan petani garam mencapai Rp 2 miliar.

Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, melalui Wakil Bupati Aceh Utara, Fauzi Yusuf didampingi Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh Utara, M Jafar menyerahkan bantuan kepada 45 petani garam yang bernaung dibawah koperasi Cot Meunarek, Selasa (30/10).

Wakil Bupati Aceh Utara, Fauzi Yusuf meninjau lokasi lahan pembuatan garam di Lapang, Selasa (30/10

Adapun bantuan program Pugar tersebut berupa 1 unit escavator, 1 unit truk pengangkut garam, 3 unit kenderaan roda tiga (viar) dan satu unit alat uji mutu garam portable serta satu paket Geomembran yang berisikan 81 roll.

“Bantuan ini bentuk hibah dengan nilai mencapai Rp 2 miliar lebih.   Sesuai dengan juknis Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Pelaksanaan Kegiatan Pugar 2018, yang diarahkan pada penataan lahan garam rakyat yang terintegrasi dengan luas hamparan minimal 15 hektar, ” kata Kadis DKP Aceh Utara, M Jafar kepada Aceh24.com.

Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Utara, Fauzi Yusuf berharap Koperasi harus jadi induk produksi.  Niat pemerintah untuk pengembangan ekonomi  dan produksi garam di Lapang, ini sudah nyata.  Baik pemerintah pusat maupun dengan pemerintah daerah. Intinya, pemerintah berharap produksi garam oleh petani tidak ada kendala.

Harga Garam Membaik

Sebelumnya, petani garam setempat kepada Aceh24.com mengaku harga nilai garam sudah mulai membaik. “Sekarang satu  are (ukuran takaran dua liter -red) laku saya jual Rp 8 ribu. Ya, saya masak menggunakan kayu. ,” kata M Yusuf dan dibenarkan Abdullah.

Proses menghasilkan garam, diakui membutuhkan waktu 6 jam. Hasilnya sekali memasak 16 are garam dan ini menghabiskan kayu seharga 20 ribu. “Kalau untuk  makan sehari-hari, cukup lah,” tambah Abdullah.

Hanya saja, harapan ke depan  adalah bila pemerintah ingin meningkatkan perekonomian petani garam- selain memanfaatkan teknologi, jangan lupa  memperhatikan alur atau tempat air laut masuk bisa lancar ke kawasan kami membuat garam. Aceh24.com

 

Foto : Gubuk pembuatan garam tradisional di Lapang, Aceh Utara, Selasa (30/10) Aceh24.com

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: