AcehBerita FotoNusantara

Pekerja Asing di Hutan Pinus Gayo tak Terpantau

Foto : Kawasan hutan pinus di kawasan jalan Linge menuju Gayo Lues. Aceh24.com

TAKENGON-Disnakertrans Kabupaten Aceh Tengah, Takengon terus memantau keberadaan pekerja asing illegal di kawasan hutan Pinus. Hanya sayang, sejauh ini keberadaan pekerja illegal itu belum terendus.

“Tenaga kerja asing ada di daerah ini. Namun yang terdata hanya mereka yang bekerja di perusahaan, jumlahnya 46 orang,” kata KadisNakertrans, T Alaidinsyah, kepada Aceh24.com, kemarin.

Menurut T Alaidinsyah,  besar kemungkinan tenaga kerja asing ilegel mendiami dan bekerja di hutan pinus. Dan, ini belum terpantau.

Selain tenaga kerja asing di PLTA yang sudah terdata, ada beberapa perusahaan telah disurati dinas untuk memperoleh data resmi terkait penempatan pekerja luar. Namun, sejauh ini sebagian besar perusahaan belum dan tidak mengindahkan surat “imbauan” dari dinas.

“Kalaupun ada tenaga asing yang dipekerjakan di sekitar hutan pinus, kami tidak dapat menindak. Fungsi kami di kabupaten hanya pembina, sedang pengawasan sepenuhnya kewenangan provinsi,” jelasnya.

Lain itu, lanjutnya, penempatan tenaga asing di suatu daerah biasanya dilakukan setelah adanya semacam MoU antara pemerintah di Jakarta dengan pihak perusahaan asing. Dimana dimungkinkan salah satu isi kesepakatan antara kedua belah pihak yakni harus menerima tenaga kerja asing yang dipekerjakan oleh perusahaan.

“Jadi kami di dinas tidak dapat memprediksi apakah ada tenaga asing illigal maupun jumlahnya di daerah ini. Pun begitu jika ada laporan dari warga tentang keberadaan mereka, kami bersama tim terpadu akan turun kelapangan untuk memastikan atau menindak,” ungkap T Alaidinsyah.

Bersamaan Korwil I Pengawas Disnaker Mobduk Aceh, Dody Harmides, yang membawahi 5 kabupaten; Biruen, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Kute Cane membenarkan, untuk di Aceh Tengah tenaga kerja asing yang terdata secara resmi  46 orang dengan  dokumen lengkap. Sementara untuk di hutan pinus tidak ditemukan adanya tenaga kerja asing illigal.

“Tahun lalu (2017-red) kami menerima laporan tentang adanya 15 orang tenaga kerja asing yang dipekerjakan di hutan pinus, namun setelah kami turun ke lapangan tidak ditemukan. Dari itu kami berharap jika ada temuan untuk membuat laporan, sehingga dapat terpantau,” ujarnya.

Disinggung apakah pernah dilakukan deportasi terhadap pekerja asing illegal yang ditemukan di wilayah tugasnya? Dody menyebutkan, cukup banyak, bahkan belum lama ini pihaknya telah memulangkan pekerja asing yang beraktifitas di Aceh Tengah dengan menggunakan visa wisata tujuan Bali, tutupnya. Mag-Aceh24.com

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: