AcehBerita FotoNusantara

KPK, Praperadilan Irwandi Yusuf tak Berdasar—Ini Kronologis ‘Jerat’ IY

Foto : Tim Anti Rasuah, memeriksa sebuah kantor pemerintah di Bener Meriah soal DOKA 2018, beberapa waktu lalu. dok

LHOKSEUMAWE-KPK menyampaikan jawaban terhadap permohonan Praperadilan yang diajukan oleh Gubernur Aceh non aktif, Irwandi Yusuf tidak berdasar.

“Hari ini, Rabu 17 Oktober 2018, KPK menyampaikan Jawaban terhadap permohonan Praperadilan yang diajukan oleh Irwandi Yusuf. Seluruh alasan IY kami uraikan untuk membuktikan di sidang bahwa permohonan praperadilan tersebut tidak berdasar,” kata Juru Bicara KPK RI, Febri Diansyah dalam siaran pers yang diterima Aceh24.com, Rabu (17/10).

Menurut Febri, setelah pembacaan jawaban KPK, persidangan dilanjutkan dengan pembuktian dari pihak Irwandi.

Lebih lanjut sarjana lulusan UGM ini mengatakan, KPK akan menghadirkan bukti-bukti yang lain mendukung Jawaban tersebut pada persidangan berikutnya. “Dapat dilakukan mulai besok dan seterusnya,” ungkap Febri.

Pria kelahiran Sumatera Barat ini pun menambahkan, sesuai hukum acara yg berlaku, maka sidang praperadilan dilakukan maksimal selama 7 hari. KPK akan memaksimalkan pengajuan bukti-bukti  hingga kesimpulan, pungkas Febri . Aceh24.com

              Ini Versi KPK Kronologi Peristiwa Tertangkap Tangan terhadap IY

  1. Bahwa pada tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia mengalokasikan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) kepada Pemerintah Provinsi Aceh yang dikelola dan dipergunakan untuk kegiatan pembangunan berupa paket-paket pekerjaan pengadaan barang dan jasa yang tersebar di seluruh wilayah Provinsi Aceh dengan nilai sekitar Rp 8 trilyun.
  2. Bahwa pada tanggal 14 Februari 2018, IRWANDI YUSUF selaku Gubernur Aceh Periode 2017 – 2022 melakukan pertemuan dengan AHMADI selaku Bupati Bener Meriah Periode 2017 – 2022 di ruang tamu Pendopo Gubernur Aceh guna membahas tentang alokasi DOKA tahun 2018 untuk paket-paket pekerjaan di wilayah Kabupaten Bener Meriah. Pada saat itu, IRWANDI YUSUF menjanjikan untuk membantu mengalokasikan DOKA tahun 2018 ke Kabupaten Bener Meriah dan untuk itu meminta AHMADI agar berkoordinasi lebih lanjut dengan salah satu staf gubernur yang bernama HENDRI YUZAL.

 

Bahwa setelah pertemuan tersebut, HENDRI YUZAL sempat ditemui oleh AHMADI yang menyampaikan pesan IRWANDI YUSUF untuk berkoordinasi dengan HENDRI YUZAL dalam pengurusan DOKA tersebut.

  1. Bahwa selanjutnya, HENDRI YUZAL menemui NIZARLI selaku Kepala ULP Provinsi Aceh guna membicarakan tentang pengalokasian DOKA tersebut, khususnya yang dialokasikan untuk Kabupaten Bener Meriah. Saat itu HENDRI YUZAL mendapatkan informasi dari NIZARLI bahwa untuk urusan tersebut, khususnya proyek di lingkungan Pekerjaan Umum, akan dikoordinasikan oleh TEUKU SAIFUL BAHRI yang merupakan Direktur PT TAMITANA dan dikenal dekat dengan IRWANDI YUSUF.
  2. Bahwa sekitar akhir bulan Februari 2018, HENDRI YUZAL dihubungi oleh seseorang bernama MUYASSIR yang merupakan Ajudan Bupati Bener Meriah yang menyampaikan bahwa MUYASSIR diperintahkan oleh AHMADI untuk berkoordinasi dengan HENDRI YUZAL guna mengurus DOKA bagi Kabupaten Bener Meriah.
  3. Bahwa tidak berapa lama kemudian HENDRI YUZAL menemui MUYASSIR dan menerima daftar kegiatan atau paket pekerjaan yang perlu dibiayai dari DOKA.
  4. Bahwa pada sekitar bulan Maret atau April 2018, Kabupaten Bener Meriah mendapatkan alokasi DOKA Tahun 2018 sebesar sekitar Rp 100 milyar.
  5. Bahwa pada sekitar bulan Mei 2018 atau awal Juni 2018 ketika proses lelang beberapa paket pekerjaan mulai dilaksanakan, IRWANDI YUSUF bertemu dengan HENDRI YUZAL di Pendopo. HENDRI YUZAL menunjukkan daftar kegiatan atau paket pekerjaan yang diminta AHMADI agar bisa dibantu.
  6. Bahwa selanjutnya, IRWANDI YUSUF mengatakan, “Urusan pengaturan paket-paket DOKA 2018, termasuk pengaturan pemenangan lelang, dikoordinasikan oleh SAIFUL termasuk masalah penerimaan komitmen fee sebesar 10% yang harus disetorkan oleh Bupati/Walikota yang memperoleh paket pekerjaan DOKA Tahun 2018”. SAIFUL yang dimaksud adalah TEUKU SAIFUL BAHRI.
  7. Bahwa kemudian HENDRI YUZAL menemui TEUKU SAIFUL BAHRI untuk menyampaikan pesan IRWANDI YUSUF tersebut. Selain itu, HENDRI YUZAL juga menemui NIZARLI dan menyampaikan daftar kegiatan atau paket

 

Bahwa selain itu, pada kesempatan yang lain yang tidak diketahui waktunya HENDRI YUZAL juga berkomunikasi dengan AHMADI dan HENDRI YUZAL mengatakan bahwa jika AHMADI menginginkan paket pekerjaan yang dibiayai DOKA tersebut, maka harus menyelesaikan syarat dan kewajibannya yaitu memberikan commitment fee sebesar 8% dari pagu anggaran untuk masing-masing paket pekerjaan bagi pihak Provinsi Aceh, termasuk di antaranya 3% untuk Gubernur Aceh.

  1. Bahwa ketika proses lelang beberapa paket pekerjaan tertentu untuk Kabupaten Bener Meriah mulai dilaksanakan, atas perintah TEUKU SAIFUL BAHRI, pada tanggal 7 dan 9 Juni 2018 TEUKU FADHILATUL AMRI secara berturut-turut menerima uang tunai sebesar Rp 250 juta dan Rp 300 juta atau secara keseluruhan sebesar Rp 550 juta dari MUYASSIR di Banda Aceh. Uang tersebut merupakan commitment fee paket-paket pekerjaan di Kabupaten Bener Meriah yang dibiayai DOKA yang dikumpulkan oleh AHMADI dan orang-orang kepercayaannya dari calon rekanan pelaksana paket pekerjaan dimaksud yang dijanjikan akan diberikan kepada IRWANDI YUSUF sesuai permintaan yang pernah disampaikan oleh HENDRI YUZAL sebelumnya.
  2. Bahwa selang beberapa minggu kemudian atau pada tanggal 2 Juli 2018 HENDRI YUZAL bertemu dengan MUYASSIR di Quantum Coffee dalam rangka membahas rencana penyerahan uang commitment fee berikutnya atas paket-paket pekerjaan di Kabupaten Bener Meriah lainnya yang dibiayai DOKA dan jumlah uang yang berhasil dikumpulkan oleh MUYASSIR.
  3. Bahwa pada saat itu disepakati bahwa berapa pun uang yang terkumpul akan diserahkan kepada TEUKU FADHILATUL AMRI keesokan harinya tanggal 3 Juli 2018.
  4. Bahwa pada tanggal 3 Juli 2018 terdapat beberapa peristiwa sebagai berikut:
  5. Sekitar jam 08.00 TEUKU SAIFUL BAHRI memerintahkan TEUKU FADHILATUL AMRI untuk mengambil uang dari MUYASSIR di Hotel Hermes.
  6. Sekitar jam 10.00 TEUKU FADHILATUL AMRI bertemu dengan MUYASSIR di kedai “3 in 1 Coffee”. Jumlah uang yang sudah terkumpul hingga saat itu

 

dan akan diserahkan kepada TEUKU FADHILATUL AMRI adalah sebesar Rp 500 juta.

  1. Sekitar jam 10.35 MUYASSIR menuju ke Kamar 377 di Hotel Hermes tempat DAILAMI yang juga orang kepercayaan dan sekaligus ajudan AHMADI menginap, untuk mengambil uang sebesar Rp 500 juta yang sudah disiapkan oleh DAILAMI sebelumnya.
  2. Sekitar jam 10.45, MUYASSIR keluar dari Hotel Hermes sambil membawa sebuah tas ransel berwarna kuning kehijauan berisi uang sebesar Rp 500 juta. Pada saat itu TEUKU FADHILATUL AMRI dengan mobil Toyota Innova warna Silver Metalik dengan Nomor Polisi BL 1313 OA yang dikendarainya telah menunggu di teras lobby luar Hotel Hermes.
  3. Selanjutnya, MUYASSIR masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh TEUKU FADHILATUL AMRI tersebut dan berjalan meninggalkan lokasi Hotel Hermes. Namun tidak berapa lama kemudian MUYASSIR turun dari mobil tersebut tetapi tanpa membawa lagi tas ransel berwarna kuning kehijauan tadi.
  4. Bahwa sekitar jam 11.10 mobil Toyota Innova warna Silver Metalik yang dikendarai oleh TEUKU FADHILATUL AMRI dan diduga ada tas ransel berwarna kuning kehijauan masuk ke rumah TEUKU SAIFUL BAHRI.
  5. Bahwa selanjutnya, TEUKU FADHILATUL AMRI menemui TEUKU SAIFUL BAHRI, sekaligus menyerahkan tas ransel berwarna kuning kehijauan tersebut kepada TEUKU SAIFUL BAHRI. Selanjutnya, tas ransel tersebut dibuka bersama-sama oleh TEUKU SAIFUL BAHRI dan TEUKU FADHILATUL AMRI dan diketahui di dalamnya terdapat beberapa bundel uang tunai yang secara keseluruhan berjumlah Rp 500 juta.
  6. Bahwa setelah itu, TEUKU SAIFUL BAHRI lalu memerintahkan TEUKU FADHILATUL AMRI untuk segera mentransfernya ke beberapa rekening.
  7. Bahwa sekitar jam 12.00 TEUKU FADHILATUL AMRI dengan mengendarai mobil Toyota Innova warna Silver Metalik tadi keluar dari rumah TEUKU SAIFUL BAHRI dengan membawa tas ransel warna kuning kehijauan berisi uang tersebut dengan maksud akan disetorkan atau ditransfer ke beberapa rekening sebagaimana diperintahkan TEUKU SAIFUL BAHRI.

 

 

  1. Bahwa selanjutnya, TEUKU FADHILATUL AMRI menghubungi 2 (dua) orang temannya bernasa MAULIDIL AKMAL dan RIZKY PRIMA FADLI agar menemui yang bersangkutan di Kantor Bank BCA Jambo Tape, Banda Aceh dan meminta bantuan untuk mentransfer sejumlah uang yang dibawanya tersebut ke beberapa rekening.
  2. Bahwa sesampainya MAULIDIL AKMAL dan RIZKY PRIMA FADLI di Kantor Bank BCA Jambo Tape, Banda Aceh, TEUKU FADHILATUL AMRI menghubungi RIZKY PRIMA FADLI agar menemuinya di Kantor Bank Mandiri di seberang kantor Bank BCA tersebut. Setelah bertemu, TEUKU FADHILATUL AMRI meminta RIZKY PRIMA FADLI mentransfer sejumlah uang ke rekening yang sudah ditentukan TEUKU FADHILATUL AMRI.
  3. Bahwa sekitar jam 12.50 RIZKY PRIMA FADLI melakukan penyetoran ke rekening Mandiri nomor 1020007054767 atas nama ADE KURNIAWAN sebesar Rp 50 juta.
  4. Bahwa setelah itu, TEUKU FADHILATUL AMRI dan RIZKY PRIMA FADLI menemui MAULIDIL AKMAL yang menunggu di Kantor Bank BCA Jambo Tape, Banda Aceh, lalu TEUKU FADHILATUL AMRI menyerahkan uang tunai sebesar Rp 363.800.000,00 (tiga ratus enam puluh tiga juta delapan ratus ribu rupiah) kepada MAULIDIL AKMAL.
  5. Bahwa antara jam 13.15 – 14.00 MAULIDIL AKMAL melakukan transfer dengan total Rp 363.775.000,00 ke 2 (dua) rekening yang diperintahkan oleh TEUKU FADHILATUL AMRI.
  6. Bahwa sekitar jam 14.30 TEUKU FADHILATUL AMRI menghubungi RIZKY PRIMA FADLI dan meminta slip bukti transfer rekening di Bank BCA dan Bank Mandiri tersebut.
  7. Bahwa sekitar 10 menit kemudian, TEUKU FADHILATUL AMRI mendatangi RIZKY PRIMA FADLI yang sedang makan siang bersama MAULIDIL AKMAL di sebuah warung makan Ujong Batee, Jambo Tape lalu mengambil slip-slip setoran tersebut dan langsung pergi meninggalkan MAULIDIL AKMAL dan RIZKY PRIMA FADLI.
  8. Bahwa sekitar jam 15.00 TEUKU FADHILATUL AMRI menemui TEUKU SAIFUL BAHRI yang saat itu sudah berada di kantornya, lalu menyerahkan slip-slip setoran bank tersebut dan sisa uang tunai yang tidak ditransfer sekitar

 

Rp 86 juta kepada TEUKU SAIFUL BAHRI. Atas sisa uang tersebut, TEUKU SAIFUL BAHRI lalu menyerahkannya kepada beberapa orang untuk berbagai keperluan yang secara keseluruhan berjumlah Rp 36 juta.

  1. Bahwa dengan demikian, dari uang tunai sebesar Rp 500 juta yang diterima oleh TEUKU FADHILATUL AMRI dari MUYASSIR pada hari itu tinggal tersisa sebesar Rp 50 juta.
  2. Bahwa sekitar jam 15.00 HENDRI YUZAL bertemu kembali dengan MUYASSIR di Quantum Coffee dan diberi tahu oleh MUYASSIR bahwa uang commitment fee sebesar Rp 500 juta telah diserahkan kepada TEUKU FADHILATUL AMRI untuk diteruskan ke TEUKU SAIFUL BAHRI.
  3. Bahwa mulai sekitar jam 17.00 hingga sekitar jam 20.40 Tim Penyelidik KPK melakukan pengamanan terhadap TEUKU FADHILATUL AMRI, dan selanjutnya berturut-turut mengamankan TEUKU SAIFUL BAHRI, HENDRI YUZAL, dan IRWANDI YUSUF di beberapa tempat terpisah di Banda Aceh.
  4. Bahwa pada saat mengamankan TEUKU SAIFUL BAHRI, ditemukan uang tunai sebesar Rp 50 juta yang merupakan bagian tersisa dari uang Rp 500 juta yang diterima dari MUYASSIR tadi pagi dan bukti setoran bank dimaksud.

 

Jenis transaksi yang dilakukan oleh sdr. IRWANDI YUSUF menggunakan tabungan Bank Mandiri Nomor Rekening : 158-00-0370663-7 atas nama MUKHLIS dan Saksi: Dapat saya jelaskan bahwa bila melihat dari print out rincian transaksi yang saya peroleh dari Bank Mandiri, transaksi yang dilakukan oleh sdr. IRWANDI YUSUF adalah:

– Tarik tunai, saya tidak mengetahui aliran uang ini selanjutnya.

– Pembelanjaan di restoran dan toko, baik dalam negeri maupun luar negeri Transfer ATM dengan keterangan ke FENNY STEFFY BURASE, MUHAMMAD ZAINI, Untuk Anak Kolong Jembatan, dan bayar gaji karyawanmu.

– MCM InhouseTrf yang merupakan transaksi yang menggunakan internet bankingDapat saya jelaskan bahwa saya beberapa kali menyetorkan uang ke tabungan Bank Mandiri Nomor Rekening: 158-00-0370663-7 atas nama MUKHLIS, yaitu:

  1. Bahwa Penyetor uang lainnya ke tabungan Bank Mandiri Nomor Rekening: 158-00-0370663-7 atas nama MUKHLIS yaitu:

– ZULFADLI pada tanggal 27 Februari 2018 sejumlah Rp. 50 juta

– Setor Tunai pada tanggal 27 Maret 2018 sejumlah Rp.120 juta

– Transfer -Pembayaran Hutang Material pada tanggal 08 Juni 2018 sejumlah Rp. 1 Milyar

– Transfer -Pembayaran Hutang Material pada tanggal 28 Juni 2018 sejumlah Rp. 200 juta

Untuk penyetoran uang pertama dan kedua tidak dapat saya jelaskan karena saya tidak mengenal ataupun mengetahui siapa yang melakukan penyetoran. Namun untuk penyetor ketiga dan keempat saya mengganggap sdr. IRWANDI YUSUF yang melakukan penyetoran karena ia mengubungi saya setelah setoran dilakukan.

  1. Bahwa pemindahbukuan saldo sejumlah Rp. 1.625.000.000,- dari tabungan Bank Mandiri Nomor Rekening : 158-00-0370663-7 atas nama MUKHLIS pada tanggal 04 Juli 2018 dan menutup rekening tersebut pada tanggal 12 Juli 2018 karena saksi mendapat informasi bahwa Sdr. IRWANDI YUSUF dibawa ke Jakarta pada tanggal 03 Juli 2018 malam oleh petugas KPK.

 

  1. Bahwa saksi telahmengembalikan uang sejumlah Rp. 1.200.000.000,- (satu milyar dua ratus juta rupiah) kepada negara melalui Rekening KPK – Perkara DOKA Aceh di Bank Mandiri dengan nomor Virtual Account 8881201806000012 karena uang tersebut yang disetorkan oleh Sdr. IRWANDI YUSUF ke dalam tabungan tersebut yang dituangkan dalam Berita Acara Penyitaan.
  2. Bahwa tindakan yang dilakukan oleh Pemohon yang menyuruh Mukhlis membuka rekening atas nama Mukhlis dan Pemohon yang menggunakan ATM (non cash) merupakan modus Pemohon dalam menerima suap dengan tujuan agar tidak mudah dilacak oleh aparat penegak hukum. Aceh24.com/ril

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: