Kodak Cari Tiram Ditengah Pandemi COVID -19

0
82
Memanfaatkan air sungai Cunda, Lhokseumawe, surut dan dangkal, warga mencari tiram untuk menambah pendapatan keluarga di tengah pandemi COVID-19 memporak poranda perekonomian. Foto diabadikan, Selasa sore (23/6)

LHOKSEUMAWE-Lima bulan sudah pandemic COVID-19 merusak tatanan  ekonomi masyarakat. Pemerintah pun memberikan bantuan dari berbagai sesi. Baik itu namanya Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Kemensos maupun Bantuan Langsung Tunai (BLT) dengan memanfaatkan dana desa.

Seorang ibu rumah tangga di Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, mengaku dipanggil Ani (45) sangat terpukul perekonomian keluarganya. Konon lagi, suami yang hanya bekerja harian.

Mencari tiram di sungai Cunda, Lhokseumawe

Namun kini lebih banyak menganggur dari pada dapat job perhari. Buat membeli kebutuhan hidup sehari saja dirasakan saat ini sangat susah.  

Jalan halal satu satunya sambil iseng adalah dengan mencari tiram di muara Cunda atau sungai di sisi selatan waduk. Anaknya pun ikut menemani.  Lumayan bila rejeki bisa dapat tiram sampai 5 kg.

“Susah pak sekarang cari uang karena adanya corona,” kata ibu ini sambil tangannya kembali menyelam meraba sana sini untuk mendapatkan tiram.

“Kalau rejeki bisa dapat 5 kilo,” tambah ibu Ani.

Mencari tiram di sungai Cunda, Lhokseumawe,

Nah, hal senada disampaikan Bang Ramli. Ia pun merasakan sangat pedih mencari nafkah dalam empat bulan terakhir ini. “Memang sangat terasa kehidupan saat ada Corona ini. Bergerak ingin cari kerja, juga susah. Ya, kebetulan air sungai lagi surut maka saya coba mencari tiram juga,” kata warga yang menyebutkan asal Gampong Keude Aceh ini.

Dijelaskan, sebelum COVID-19, Ramli masih menarik becak mesin. Syukur setiap hari dirinya bisa mengantar dan menjemput anak-anak sekolah. Sehingga memenuhi kebutuhan keluarga masih dikatakan cukup.

“Tapi ini kan sudah hampir lima bulan anak-anak tidak sekolah. Penumpang umum juga merosot tajam. Iya, banyak yang malas keluar rumah. Jadi, pandemic COVID ini sungguh berat efeknya bagi masyarakat kehidupan seperti kami,” ujar Ramli.

Dijelaskan, tiram yang diperoleh laku dijual Rp 10 ribu sekilo. Tentu saja, isi tiram yang dijual tidak bersama kulit.  Lalu, distribusi kemana ? Sejumlah penjual mie Aceh pun jadi langganan mereka, pungkas Ramli seraya berharap virus Corona enyah dari Aceh.

Minat mie tiram yang penuh gizi. Mari coba ?

polres lsm

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.