AcehBerita FotoNusantara

Keringat Petani Garam Lancok tak Asin Lagi–Tanggul Jebol

Foto : Petani garam Dusun Lancang, Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Samsiah M sedang mengolah bahan baku menjadi garam, Sabtu (21/10). Mahalnya bahan baku dan tidak ada pemasaran, petani mengaku kewalahan dan meminta Pemda Aceh Utara, berperan aktif menyikapi kehidupan petani garam. Aceh24.com

Keringat Petani Garam Lancok tak Asin Lagi

Tanggul Jebol, Sebulan tak Kerja

 

LHOKSUKON-Mengharapkan hujan turun dari langit, Air di Tempayan di tumpahkan. Setidaknya inilah yang dirasakan 30 an petani garam di Dusun Lancang, Gampong Lancok,Kecamatan Syataliara Bayu, Kabupaten Aceh Utara.

Kenapa tidak ? Petani garam setempat,  berharap dapat menghidupkan keluarga sehari-hari dengan hasil keringat membuat garam. Namun harapan itu bagaikan mimpi di siang bolong.

Pasalnya, tanggul penahan air laut sudah jebol. Air pun menggenangi tambak-tambak yang selama ini dijadikan sebagai wadah mengolah garam. Sudah berlangsung sebulan yang lalu, tanggul jebol. Namun, perhatian akan nasib mereka masih dinilai terabaikan.

Ujung-ujungnya mengakibatkan sekitar 36 petani garam di Dusun Lancang, Gampong Lancok,  nganggur. “Kami mengharap ada upaya perbaikan tanggul itu. Tal mahal pun kalau dibuat. Hanya butuh Rp 5 juta saja dan sudah beres. Sehingga kami bisa membuat garam lagi,” kata M Alim kepada Aceh24.com, Sabtu siang (21/10) dan ditemani beberapa ibu-ibu pengrajin garam.

Lebih lanjut dikatakan, bila perbaikan tanggul tadi terlaksana, petani garam Dusun Lancang, mengaku menyanggupi persediaan garam dalam sehari 1 ton.

Namun, itu pun, ujar M Alim, dari 36 petani garam di Dusun Lancang, sangat mengharapkan bantuan pemerintah daerah dalam pemasarannya.

 

“Buat apa kami harus banyak-banyak buat garam. Jual tidak tahu kemana,” papar M Alim dan dibenarkan ibu Samsiah M.

Menurut dia, selama ini garam yang mereka buat dibeli oleh moge (pembeli menggunakan sepeda motor, secara enceran-red) hanya ukuran 20 bambu atawa are saja. Bila kilogram sekitar 30 kg garam.

Untungnya petani garam ini pun, diakui sangat minim.  Sebab, saat membuat harus membeli bijeh atau bibit ekstrak garam yang nilainya sampai Rp 60.000 satu sak. Garam pun bila dijual ke pengecer Rp 10.000/bambu. Dengan hasil garam maksimal 30 kg. Itu belum lagi, biaya beli kayu bakar untuk mengolah sampai menjadi garam, paling tidak Rp 200 ribu.

Ditambahkan, kemakmuran petani garam Lancok bakal terwujud, setidaknya Pemda Aceh Utara, bisa membuka link pembeli skala besar.  “Pak, cari lah yang mau beli garam kami. Kami mampu hasilkan 1 ton garam sehari,” kata Ali Imam.

Atau, buatkan kami koperasi garam yang khusus membeli hasil keringat kami. Maka tidak sia-sia kami kerja. Sampaikan pesan ini sama bapak Bupati Cek Mad, pungkas M Imam bersamaan dengan istri dan anaknya saat ditemui di gubuk membuat garam.

Hingga pukul 13.50 WIB, tak satu pun pejabat Aceh Utara, yang berkaitan dengan tupoksi nasib petani garam ini, ponselnya aktif.

Begitu pula orang nomor satu di kabupaten yang memiliki angka 17 persen warganya miskin sampai pukul 14.10 WIB, Bupati H Muhammad Thaib, enggan menjawab harapan petani garam Lancok.

Berkembang info, Bupati sedang menerima Wakil Gubernur Aceh di Meuligo, bersama seluruh pejabatnya. Aceh24.com

 

Foto : Petani garam Dusun Lancang, Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Samsiah M sedang mengolah bahan baku menjadi garam, Sabtu (21/10).  Mahalnya bahan baku dan tidak ada pemasaran, petani mengaku kewalahan dan meminta Pemda Aceh Utara, berperan aktif menyikapi kehidupan petani garam. Aceh24.com

Foto : Rumah dapur mengolah garam milik petani Dusun Lancang, Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, digenangi air laut. Sehingga terkendala membuat garam. Aceh24.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: