AcehBerita FotoNusantara

Garam Langka, Pengrajin Garam Sengsara

Foto : Rumah dapur mengolah garam milik petani Dusun Lancang, Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, digenangi air laut karena tanggul jebol. Sehingga terkendala membuat garam. Sabtu (21/10). Aceh24.com

LHOKSUKON-Samsiah M Nur, sudah puluhan tahun bergelut sebagai petani garam. Hidup pas – pasan tak terelakkan. Itek na, manok na, dum pu na. Itu kan kata si Beurgek. Tapi, Samsiah, jangankan punya mobil dan rumah mewah. Rangkang dapur buat olah garam saja sampai hari ini masih nyewa.

Ironis memang. Padahal, pekerjaan yang disandang oleh nenek mengaku telah memiliki tiga cucu ini, sempat membuat panik pejabat negeri berpenduduk 350 juta jiwa.

Kenapa tidak ? Indonesia yang memiliki ribuan pulau dan di kelilingi laut, bisa-bisanya langka akan garam. Tak sampai disitu saja, pemerintah Indonesia pun terpaksa importasi garam 75.000 ton dari Australia, akhir Juli 2017 lalu.

Nah, kok bisa langka ? Wajar saja lah kiranya. Kenapa tidak ? Buktinya, petani yang ada di depan mata kita saja, mengaku sudah lebih sebulan ngak bisa mengolah garam.

Padahal, hanya akibat sepele saja. Ya, tanggul udah jebol di bibir pantai Dusun Lancang, Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Baru, Aceh Utara.

Nah, walaupun tanggul tak jebol, petani garam mengaku semua bahan baku untuk menghasilkan garam, cukup mahal. Baik itu, kayu bakar, sampai pula bijeh garam atawa bahan ekstrak garam.

“Saya sewa rangkang dapur ini setahun 500 ribu. Tapi, bila air naik seperti ini karena tanggul sudah jebol, kami tidak bisa membuat garam” kata Samsiah sambil menunjuk air laut sudah hampir menyentuh dapur garam persewaannya dengan logat Aceh yang kental

Dikatakan, bagaimana kami bisa hidup senang bila lahan membuat garam saja seperti ini, dilupakan. “Dulu saya bisa menghasilkan garam sehari 20 are (ukuran bambu sama dengan 1,5 kg-red). Sudah itu bahannya pun murah,” ujar nenek ini lagi.

Di hari –hari normal, untuk menghasilkan garam ukuran seperti disebutkan, membutuhkan bahan kayu bakar senilai Rp 200 ribu. Ditambah bijeh ekstrak garam satu sak Rp 60 ribu.

“Ya, cukup untuk biaya hidup sehari hari saja,” tutur Samsiah.

Selain Samsiah, M Imam pun mengungkap bila tanggul tak jebol, maka 36 petani garam yang ada (sesuai rumah dapur garam-red)  mampu menghasilkan garam 1 ton sehari.

“Kita berharap, pak bupati mau memperbaiki itu tanggul. Memang sebelumnya sudah sering dibuat. Tetapi, kurang kuat dan jebol lagi,”kata Imam sambil mengelus kepala anaknya.

Ujong-ujongnya,  Imam mengungkap permasalahan petani garam Lancok, tetap hal klasik. Ya, mereka sangat membutuhkan perhatian pemerintah daerah dalam memasarkan produk garam mereka.

“ Atau, buat kan kami koperasi,” tantang M Imam, Sabtu (21/10).

Nah, inginkah melihat petani garam kita sejahtera. Sekaligus mengurangi angka kemiskinan yang tercatat 17 persen dari 560 ribu jiwa miskin. Maka Pemerintah Daerah Aceh Utara, jangan diam.

Ya, memang APBK Aceh Utara, devisit Rp 225 miliar tahun ini. Paling tidak, sentil pak geuchik pakai dan gampong. Bukankah, Aceh Utara secara keseluruhan keciprat Rp 635 miliar tahun ini. Semua diperuntukkan untuk kesejahteraan masyarakat. Kerja,Kerja,Kerja. Aceh24.com

 

Foto : Rumah dapur mengolah garam milik petani Dusun Lancang, Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, digenangi air laut karena tanggul jebol. Sehingga terkendala membuat garam. Sabtu (21/10). Aceh24.com

 

Foto : Samsiah M memperlihatkan bijeh atau ekstrak garam yang dibeli Rp 60 ribu untuk dicampur membuat garam di Lancok, Syatalira Bayu, Aceh Utara, Sabtu (21/10). Aceh24.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: