Azan Berkumandang Petir Mengglegar Sambut Mendaratnya 94 Pengungsi Rohingya

0
205
Seorang nelayan di Lancok, Aceh Utara, menurunkan seorang anak Rohingya ke darat, Kamis sore (25/4).

Awan hitam terlihat tebal di langit. pantai Lancok. Azan pun berkumandang di meunasah. Seakan ucapan selamat datang di Bumi Malikussaleh bagi 94 warga muslim Rohingya.

Sudah 18 jam berada di perairan Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, ‘manusia perahu”. Nelayan setempat pun semakin sedih melihatya. Kamis sore (25/6) niat tulus tak tertahankan untuk menarik paksa ke daratan.

Jangkar boat pun dilepas. Tali mulai diulur ke boat kecil. Suara teriak masyarakat di tepi pantai membahana menambah semangat. “Tarik-tarik aja ke darat,” dengan suara histeris.

Sejumlah nasi bungkus pun sudah mereka siapkan sejak pukul 14.30 WIB di rangkang yang biasa buat santai pengunjung pantai.

Dari mana nasi itu ? Tak lain adalah prakarsa masyarakat nelayan di sekitaran Lancok. Karena meraka tahu. Di boat yang sudah mulai rusak itu pun, banyak anak-anak dan lansia yang belum makan.

Kotak karton dijalankan mengelilingi pengunjung. Bagi yang dermawan tanpa basa-basi segera merogoh kantongnya. Bahkan, ibu-ibu pun dengan cepat membuka tas.

Uang yang terkumpul itulah untuk membeli nasi bungkus ke 94 pengungsi Rohingya yang terdampar lebih dari 4 mil dari bibir pantai perairan Seunedon, sebelum ditarik ke Lancok.

Setelah boat kandas di tepi pantai. Satu persatu anak-anak Rohingya diturunkan oleh nelayan. Mereka disusun ditepi pantai.  Wajah lusuh, muka pucat. Bahkan ada yang tidak mampu berjalan lagi mendapat perhatian sama di mata nelayan. Garis polisi agar tidak terlalu dekat dengan proses evakuasi pun sudah duluan terbentang.

Sebelumnya, Kabag Ops Polres Lhokseumawe, Kompol Adi Sofyan mengatakan police line agar membatasi sekaligus pencegahan COVID-19.

Hujan pun sudah turun.  Proses pendaratan berhasil. Rangkang atau pondok tempat santai ukuran 1,5 meter dengan panjang 15 meter dijadikan tempat kumpul mereka. Satu persatu diberi nasi bungkus.

Dengan lahap dinikmati.  Sementara dipergelangan tangan mereka pun terlihat pita berwarna orage. Ini sebagai tanda tentunya.

Menurut rencana, malam ini mereka akan tidur di meunasah Gampong Lancok. Tak apalah. Yang penting sudah mendarat dan bisa mendapat cukup makanan dan minuman.

Suara bayi kedinginan, lapar dan panasnya matahari sudah berlalu di KM 2017.811.

polres lsm

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.