42 Meninggal Korban Banjir Bandang Sentani Jayapura

F : Banjir bandang Sentani, Jayapura menyebabkan 42 orang meninggal dan warga mengungsi. BNPB

LHOKSEUMAWE- Bertambah korban banjir bandang Sentani, Jayapura. Hingga Minggu pagi pukul 08.30 WIB menjadi 42 orang meninggal dan 21 luka-luka.

Banjir bandang yang melanda 9 Kelurahan itu terdiri Barnabas Marweri, Piter Pangkatana, Kristian Pangakatan, Didimus Pangkatana, Andi Pangkatana, Yonasmanuri, Yulianus Pangkatana, Nelson Pangkatan, dan Nesmanuri.

“Saat ini banjir telah surut meninggalkan lumpur, kayu-kayu gelondongan dan material yang terbawa banjir bandang. Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan pencarian korban,” kata Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu  pagi.

Disebutkan lagi, tercatat dampak banjir bandang sebanyak  42 orang meninggal dunia,  dan 21 orang luka-luka. Kerusakan meliputi 9 rumah rusak terdampak banjir di BTN Doyo Baru, 1 mobil rusak atau hanyut, jembatan Doyo dan Kali Ular mengalami kerusakan, sekitar 150 rumah terendam di BTN Bintang Timur Sentani, kerusakan 1 pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani. Dampak kerusakan masih akan bertambah karena pendataan masih dilakukan.

Beberapa warga sejak semalam mengungsi. Sekitar 50 orang di Kantor Bupati Jayapura Gunung Merah, 70 orang di Kediaman Bupati Jayapura, dan beberapa warga mengungsi di Kantor Basarnas Jayapura.

Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI dan relawan melakukan penanganan darurat. Posko akan didirikan. Sebagian bantuan disalurkan kepada masyarakat terdampak.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Pusat, melihat dampak banjir bandang  yang terjadi di Sentani, kemungkinan disebabkan adanya longsor di bagian hulu yang kemudian menerjang di bagian hilir.

Karakteristik banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia diawali adanya longsor di bagian hulu kemudian membendung sungai sehingga terjadi badan air atau bendungan alami.

“Karena volume air terus bertambah kemudian badan air atau bendung alami ini jebol dan menerjang di bagian bawah dengan membawa material-material kayu gelondongan, pohon, batu, lumpur dan lainnya dengan kecepatan aliran yang besar. Ini ditambah dengan curah hujan yang berintensitas tinggi dalam waktu cukup lama.  Pada tahun 2007, kejadian banjir bandang juga pernah terjadi di Distrik Sentani,” ujar Sutopo.Aceh24.com

Comments

comments

CATEGORIES
TAGS
Share This